Kepemimpinan
dimulai dengan hati bukan dengan kepala.
Pilkada,
sebuah kata yang dekat sekali dengan bangsa ini pada hari-hari ini. Semua media
massa memberikan infomasi terbaru tentang pilkada dari semua daerah untuk
pelaksaan pemilihan kepala daerah. Tanah Karo, juga sedang mempersiapkan segala
sesuatunya agar pelaksanaan pilkada bisa berlangsung dengan sukses. Milis
tercinta Takasima ini juga sangat seru dan panas-panasnya dalam pembahasan
pilkada dan terlebih membahas calon bupati yang akan dipilih pada pilkada
nanti.
Saya sangat
tertarik dengan pembahasan pilkada di milis ini. Saya hanya sekedar mengamati
dan bingung dengan beberapa posting email yang mengajak saya berfikir pemimpin
seperti apakah yang terbaik untuk masyarakat Karo, yang segelintir ada dimilis
ini dan menggambarkan siapa dirinya. Apakah anggota milis ini, mewakili
gambaran masyarakat Karo, atau kebanyakan mewakili golongan elite intelektual
dari masyarakat Karo itu sendiri, menjadi pertanyaan bagi saya. Pemimpin
seperti apakah yang tepat untuk memimpin Karo, yang sebagian karakter
masyarakatnya nyata di milis ini? Pemimpin seperti apakah yang akan mengubah
wajah Tanah Karo, sehingga Tanah Karo yang sudah mulai panas bisa menjadi Tanah
Karo Simalem lagi?
Jeffry
Wofford mengatakan, “banyak pemimpin yang duduk diposisi pemimpin tapi tidak
tahu bagaimana harus memimpin.“
“Ada
pemimpin tapi tidak ada kepemimpinan demikian kata Eka Darmaputra
Berada
dipuncak pimpinan, mungkin terlihat suatu yang membanggakan dan sangat
menggiurkan untuk menjadi orang nomor satu. Tapi apakah sesuatu yang
membanggakan seperti itu harus dikejar dengan semua usaha yang menggunakan
“otak“ untuk membangun “proses“ dan menciptakan “kesempatan“ untuk
membawa diri kepuncak pimpinan? Kepemimpinan yang dimulai dengan kepala menurut
saya hanyalah seorang pemimpin gadungan. Ketika kekuasaan dan kekuatan uang
memasuki pikiran, kedua hal itulah yang diandalkan untuk membawa diri menjadi
seorang pemimpin. Dan akhirnya memimpin karena posisinya bukan karena kemampuan
dirinya untuk memimpin.
Kepemimpinan
sangat erat dengan pengaruh. Pengaruh yang positif sehingga anak buah
(masyarakat) mengikuti dan mau dipimpin. Tapi seorang pemimpin gadungan akan
mengandalkan uang dan membayar orang supaya mengikutinya. Pemimpin gadungan
menggunakan kekuasaannya untuk menekan orang lain supaya mengikutinya. Semua
orang yang berada dibawah pemimpin seperti ini akan tertekan dan hilang
kreatifitasnya
Pemimpin
harus memiliki integritas. Integritas adalah suatu prinsip yang didasarkan atas
karakter, etika, agama, moral yang baik yang menyatakan siapa dia. Karena dia
akan menyelaraskan itu melalui cara berpikir, berbicara, bersikap, bertindak
dan mengambil keputusan (konsisten). Seseorang yang punya integritas memiliki
kehidupan yang terintegrasi.
Seorang
pemimpin perlu diperhatikan kehidupannya. Apakah dia mampu memimpin
keluarganya, karena itu akan menunjukkan kemampuannya memimpin komunitas yang
lebih besar. Kita sudah memiliki pemimpin sebelumnya untuk dievaluasi,
bagaimana dia memimpin keluarga. Pertanyaan yang bisa kita pikirkan berhasilkah
kepemimpinannya akan tanah Karo?
Selain mampu
memimpin keluarga, pemimpin juga harus mampu memimpin diri sendiri. Mampu
memimpin diri sendiri dalam memberi pendapat dengan sopan dan menghargai
nilai-nilai kemanusiaan. Kalau diri sendiri tidak bisa dikendalikan,
bagaimanakah orang tersebut bisa memimpin satu daerah? Kaisar Nero membakar
kota Roma adalah contoh yang diakibatkan pemimpin yang tidak mampu menguasai
diri. Hutan di Tanah Karo semakin gundul dan tanah pertanian semakin gersang
akan terjadi apabila kita memiliki pemimpin yang tidak mampu memimpin diri
sendiri.
Pemimpin
yang berintegritas sangat diperlukan karena dia merupakan pribadi yang bisa
dipercaya. Sehingga Visinya untuk tanah Karo bukan sesuatu mimpi saja, tetapi
menjadi visi semua masyarakat Karo dan bersama-sama kita akan meraih visi itu
dibawah kepemimpinannya. Kualitas penting yang perlu diperhatikan pada setiap
calon pemimpin adalah, pengaruh, karakter, keahliannya tentang manusia
khususnya orang Karo, semangatnya untuk tanah karo, dan kecerdasan. Kecerdasan
yang dimaksud adalah kecerdasan mental yang diperlukan untuk memproses banyak
informasi, menyaringnya, mempertimbangkan semua pilihan, dan membuat keputusan
yang benar.
Kalau
seorang pemimpin hanya menggunakan otaknya untuk menjadi pemimpin di tanah
Karo, maka masih banyak yang perlu dibenahi dan di proses untuk membentuk
pribadi yang mampu menjadi pemimpin di tanah Karo.
Sebagai
manusia, seharusnya kita tidak boleh cuek dengan situasi yang mempengaruhi
kehidupan masyarakat. Kita harus mengambil sikap dan sekalipun seakan kita
tidak memiliki pengaruh dalam pemilihan kepala daerah. Kita memiliki keluarga,
mama, mami, bibi, bengkila di tanah Karo, yang mungkin tidak mengerti dengan
semua pemilihan kepala daerah. Mereka hanya tahu bahwa akan dipilih kepala
daerah, dan mengharapkan sesuatu yang lebih baik akan terjadi. Keluarga kita
yang di kampung, mungkin tidak bisa memahami dan mengkaji calon pemimpin yang
ada yang bisa mereka pilih. Kita semua memiliki tanggung jawab untuk kebaikan
tanah Karo. Kita perlu mengenali calon pemimpin dan memberi penilaian apakah
dia mampu memimpin tanah Karo atau tidak. Kalau kemampuan calon pemimpin dalam
memimpin tanah Karo perlu dipertanyakan, sebagai masyaraka t Karo kita perlu
mengambil sikap supaya hal yang lebih buruk dari sebelumnya tidak terjadi lagi
atas tanah Karo.
Saya tidak
tahu apa yang bisa dilakukan mencegah semua hal-hal yang akan semakin
memperburuk keadaan tanah Karo selain munculnya seorang pemimpin yang memiliki
kualitas kepemimpinan. Kita masih memiliki waktu untuk mencegah semua yang
buruk yang bisa dihasilkan karena pemimpin gadungan yang akan menuju puncak
pimpinan. Seseorang yang memimpin karena posisinya, bukan karena kepribadian
dan kemampuannya untuk memimpin.
Saya pikir
dipuncak itu tidak menyenangkan, karena sendirian.
Kepemimpinan
yang dimulai dengan hati untuk kebaikan dan kemajuan tanah Karo akan lebih
berpengaruh. Karena segala sesuatu yang dilakukan dengan hati yang tulus akan
menyentuh hati.


0 komentar:
Posting Komentar